Teknologi.id - Kasus peretasan internet kembali terjadi di Indonesia, kali ini dengan sasaran yang tidak terduga. Sejak Minggu (24/11/2021), beberapa akun Google Bisnis milik hotel dan bank di Indonesia menjadi sasaran peretas tak dikenal. Peretasan ini mengubah nomor telepon yang terdaftar di Google Maps dan Google Penelusuran menjadi nomor palsu sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan bisnis.
Peretasan ini pertama kali ditemukan di Surabaya dan dengan cepat menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Berdasarkan laporan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), banyak hotel di kota-kota seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, dan Makassar yang terkena dampaknya. Bahkan, di Bandung saja, ada sekitar 25 hotel yang terkena dampak peretasan ini, termasuk hotel-hotel besar yang menjadi tempat wisata utama.
Belum dilakukan pengecekan pengamanan, namun diduga dilakukan oleh warga karena nomor yang diubah juga dikirimkan ke nomor lokal yakni rekening bank yang diubah di salah satu jaringan online. Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara),” ujarnya. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditemukannya nomor WhatsApp palsu yang digunakan dalam peretasan yang merujuk pada nomor lokal.
Topik berbeda
Tidak hanya hotel yang menjadi sasaran, namun proses peretasan merambah ke sektor lain seperti bank, gedung, dan kantor pemerintahan. Bank BCA, salah satu bank terbesar di Indonesia, juga terkena dampak peretasan ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, halaman Google Maps di beberapa kantor imigrasi di Indonesia juga terkena dampaknya. Nomor palsu tersebut terdaftar di akun Google Bisnis mereka, sehingga General Manager Migrasi harus memperingatkan orang-orang melalui thread di platform media sosial X. Direktorat Jenderal Imigrasi menulis dalam peringatannya: Masyarakat diimbau mewaspadai nomor telepon WhatsApp palsu 081230030440 yang ada pada informasi beberapa kantor imigrasi di laman Google Maps.
Pengaruh dan kecemasan
Peretasan tidak hanya berbahaya tetapi juga mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang tersedia secara online. Orang-orang yang dulunya mengandalkan Google Maps untuk menemukan informasi kontak bisnis kini perlu mengetahui lebih banyak. Risiko penipuan meningkat karena banyak orang tidak mengetahui bahwa nomor telepon yang mereka hubungi adalah nomor palsu yang dioperasikan oleh peretas. Menurut PHRI, kerugian hotel akibat peretasan ini sangat besar. Banyak pelanggan yang bingung dan akhirnya komplain ke pihak hotel. Selain itu, reputasi hotel juga terdampak karena pelanggan berpikir dua kali sebelum memesan layanan melalui platform online. Selain hotel dan bank, apartemen juga menjadi sasaran peretasan. Nomor palsu yang tertera di Google Maps menyesatkan penyewa yang tidak curiga dan akhirnya dikirimkan ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, banyak pemilik wisma dihadapkan pada kemungkinan kehilangan penyewa.
Tindakan pencegahan dan tindakan keselamatan
Mencermati dimensi dan dampak peretasan ini, sebaiknya pemilik dan perusahaan terkait melakukan tindakan preventif. Misalnya, Departemen Imigrasi telah menyarankan masyarakat untuk mencari informasi kontak di Google Maps saat melakukan pencarian. Pengguna juga disarankan untuk menghubungi media sosial resmi perusahaan atau menggunakan layanan live chat General Manager Imigrasi yang tersedia pada hari kerja. Selain itu, pengguna disarankan untuk memverifikasi nomor telepon yang tertera melalui cara lain, seperti mengecek situs resminya atau menghubungi nomor yang tertera di bagian bawah halaman Google Maps. Nomor telepon asli biasanya tertera di bagian kontak, sedangkan nomor palsu tertera di bagian alamat atau nama perusahaan. Untuk melindungi akun Google Bisnis mereka, pemilik bisnis didorong untuk memperkuat keamanan akun dengan menggunakan otentikasi dua faktor (2FA) dan meninjau informasi akun Google Bisnis mereka. Langkah ini penting untuk mencegah orang yang tidak berkepentingan mengakses dan meretas akun pengguna.
