info@ruangdatanusantara.com
CYBER 1 3A FLOOR JL. KUNINGAN BARAT RAYA NO.9B KUNINGAN BARAT JAKARTA SELATAN
1

TOWER PROVIDER & TELECOMMUNICATION INFRASTRUCTURE

Penggunaan Teknologi 4.0 di Sektor Kesehatan Masih Minim, Tapi Prospektif
Home » Eco System  »  Penggunaan Teknologi 4.0 di Sektor Kesehatan Masih Minim, Tapi Prospektif
Penggunaan Teknologi 4.0 di Sektor Kesehatan Masih Minim, Tapi Prospektif

Kementerian Perindustrian menyatakan pemanfaatan teknologi Industri 4.0 pada industri alat kesehatan masih minim. Meski demikian, pemerintah optimistis penggunaan teknologi Industri 4.0 pada sektor alat kesehatan akan semakin meluas di masa depan. Andi Rizaldi, Direktur Badan Standar dan Kebijakan Pelayanan Industri Kementerian Perindustrian, menjelaskan minimnya adopsi teknologi Industri 4.0 pada sektor alat kesehatan disebabkan lemahnya belanja kesehatan masyarakat. Meski demikian, Rizaldi menilai pemanfaatan teknologi Industri 4.0 di bidang alat kesehatan cukup menjanjikan di masa depan. Kesadaran kesehatan nasional semakin baik, kata Rizaldi di Jakarta International Expo, Selasa (27 Agustus). Badan Pusat Statistik secara sistematis mencatat pengeluaran kesehatan per kapita kurang dari 4% dari total pengeluaran rumah tangga selama tahun 2016-2023. Namun, nilai belanja kesehatan rumah tangga cenderung meningkat selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, pengeluaran medis rumah tangga bulanan pada tahun lalu sebesar Rp59.979 per kapita atau setara dengan 3,55% dari total pengeluaran bulanan rumah tangga. Namun angka tersebut meningkat 13,3% dibandingkan belanja kesehatan bulanan sebesar Rp 52.937 per kapita pada tahun 2022.

Kementerian Perindustrian menyatakan pemanfaatan teknologi Industri 4.0 dalam perekonomian industri alat kesehatan masih pada level minimal. Meski demikian, pemerintah optimistis penggunaan teknologi Industri 4.0 pada sektor alat kesehatan akan semakin meluas di masa depan. Andi Rizaldi, Direktur Badan Standar dan Kebijakan Pelayanan Industri Kementerian Perindustrian, menjelaskan minimnya adopsi teknologi Industri 4.0 pada sektor alat kesehatan disebabkan rendahnya belanja kesehatan masyarakat. Meski demikian, Rizaldi menilai pemanfaatan teknologi Industri 4.0 di bidang alat kesehatan cukup menjanjikan di masa depan. Kesadaran kesehatan nasional semakin baik, kata Rizaldi di Jakarta International Expo, Selasa (27 Agustus). Badan Pusat Statistik mencatat belanja kesehatan per kapita selalu berada di bawah 4% dari total belanja rumah tangga pada periode 2016-2023. Namun, nilai belanja kesehatan rumah tangga cenderung meningkat selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, pengeluaran medis rumah tangga bulanan pada tahun lalu sebesar Rp59.979 per kapita atau setara dengan 3,55% dari total pengeluaran bulanan rumah tangga. Namun angka tersebut meningkat 13,3% dibandingkan belanja kesehatan bulanan sebesar Rp 52.937 per kapita pada tahun 2022. BACA JUGA Airlangga mempertemukan mantan Menteri Koordinator Perekonomian dan membahas penyelamatan kelas menengah dengan mengkaji pelatihan dan gaji calon pegawai negeri sipil. BPKP 2024, beserta persyaratannya Teknologi industri 4.0 merupakan teknologi yang digunakan pada revolusi industri pertama keempat, seperti sensor dan kecerdasan buatan. Sementara itu, Rizaldi mengatakan adopsi teknologi Industri 4.0 terbesar terjadi pada industri makanan dan minuman. Menurut dia, hal ini setara dengan laju pertumbuhan nilai produksi industri pangan pertanian sekitar 6%/tahun. Kementerian Kesehatan juga tengah mendorong penggunaan teknologi medis, termasuk kecerdasan buatan atau AI, dalam praktik pelayanan medis kepada pasien. Salah satu kemajuan yang dilakukan adalah penerapan teknologi AI untuk memudahkan praktik ahli radiologi, ahli saraf, dan ahli patologi. “Kementerian Kesehatan telah meluncurkan inisiatif AI terkait SpRad, SpN, dan SpPA,” kata Budi pada Juni lalu. Budi meyakini perkembangan teknologi AI di bidang kesehatan akan membawa perubahan signifikan dalam peningkatan layanan kesehatan di Indonesia. Penggunaan teknologi AI di bidang kesehatan setidaknya akan memberikan dukungan kesehatan yang lebih akurat. Memang benar, di dalam tubuh manusia terdapat lebih dari 30 juta gen, 87 miliar neuron, sebagian besar terletak di otak, 300.000 miliar sel, dan 37.000 miliar mikroorganisme, saling berhubungan dan mempengaruhi kesehatan manusia. Ia mengatakan peran teknologi AI dapat mengubah cara kerja pengobatan dan membantu dokter mendeteksi penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dengan lebih mudah, cepat dan akurat. Menurut Budi, semakin berkembangnya pemahaman ilmiah tentang penyebab penyakit jantung berdampak pada teknologi yang terus berkembang. Ia mencontohkan: Sebelum ada laboratorium darah high-density lipoprotein (HDL) dan low-density lipoprotein (LDL) untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular, seorang dokter menggunakan stetoskop sebagai alat diagnosis penyakit jantung primer. Teknologi tersebut kemudian dikembangkan dengan elektrokardiogram untuk mengetahui pergerakan grafik, dilanjutkan dengan CT scan, hingga akhirnya muncul pengujian genetik untuk mendeteksi mutasi genetik pada tubuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung. “Secara bertahap alat deteksi harus dilengkapi dengan tes darah, tes EKG, USG, tes CT, tes Polygenic Risk Score dan teknologi baru di masa depan,” kata Budi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *