Indeks saham Wall Street AS melemah pada Selasa (9 Maret). Hal ini disebabkan oleh penurunan saham-saham teknologi dan melemahnya data ekonomi terkini, sehingga membuat investor khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Dow Jones Industrial Average turun 626,15 poin atau 1,51%, berakhir pada 40.936,93, dan S&P 500 turun 2,12%, ditutup pada 5.528,93. Sedangkan Nasdaq Composite turun 3,26% menjadi ditutup pada 17.136,30. Ketiga indeks tersebut mencatatkan hari terburuknya sejak aksi jual global pada 5 Agustus. Selain itu, saham-saham chip juga memberikan tekanan pada pasar, dengan saham Nvidia yang sebelumnya kuat turun lebih dari 9%. Saham Micron, KLA dan Advanced Micro Devices juga turun selama sesi tersebut. Secara keseluruhan, saham VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 7%. Bahkan sektor teknologi informasi S&P 500 memimpin penurunan indeks secara keseluruhan dan mencatatkan hari terburuk sejak September 2022.
Di bawah tekanan data ekonomi Amerika Serikat
Pasar melemah sejak Selasa pagi setelah dua laporan aktivitas manufaktur AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan . . Data manufaktur dari S&P Global menunjukkan penurunan dari bulan Juli hingga Agustus. Sementara itu, hasil survei dari Institute for Supply Management tidak memenuhi harapan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones pada hari Rabu. Hal ini membuat investor semakin khawatir terhadap kemungkinan perlambatan ekonomi AS, yang bisa memicu aksi jual pada awal bulan lalu. Larry Tentarelli, kepala strategi teknis di Blue Chip Trend Report, percaya bahwa kondisi pasar saat ini sensitif terhadap data apa pun yang muncul. “Kita kini berada dalam situasi di mana pasar sangat bergantung pada data,” kata Tentarelli seperti dikutip CNBC, Rabu (9 April). Pergerakan saham pada hari Selasa menandai dimulainya bulan perdagangan baru setelah ketiga indeks utama membukukan kenaikan untuk Agustus 2024. Pasar AS sebelumnya ditutup pada hari Senin karena Hari Buruh. Namun perdagangan saham di bulan September tidak selalu berjalan semulus yang diharapkan. Memang pasar khawatir perekonomian AS akan memasuki resesi. Situasi ini semakin diperparah dengan ditutupnya sejumlah transaksi hedge fund yang melibatkan Yen Jepang. Hal ini menyebabkan saham-saham terpuruk di awal Agustus 2024. Memang kinerja S&P 500 anjlok lebih dari 7% dalam sebulan sebelum akhirnya pulih. Penurunan tersebut terjadi menjelang rilis data ekonomi pertama AS bulan ini pada hari Jumat. Tanggal tersebut juga berdekatan dengan rencana pemerintah merilis laporan ketenagakerjaan AS periode Agustus 2024. Di sisi lain, Wall Street juga menghadapi tantangan musiman, karena September cenderung menjadi bulan terburuk untuk kinerja S&P 500 selama 10 tahun terakhir.
